Pengikut

Posted by : Muhammad Irsyad Bakri




As.wr.wb
Salam seumat saudara...
Bismillahirrahmanirrahim, dalam artikel/blog ini, syaya akan membagikan sedikit ilmu masalah kewajiban umat muslim terhadap Al-Qur'an...
_____________________________________________________________________________________

Sungguh, seorang muslim tentu menyadari bahwa Al-Qur’an merupakan Firman yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang Muslim juga tentu menyadari bahwa mengagungkan Al-Qur’an merupakan bentuk pengagungan terhadap Dzat yang memfirmankannya. Di samping itu seorang muslim juga menyadari bahwa ia memiliki kewajiban terhadap Al-Qur’an.
Paling tidak ada tiga kewajiban terhadap Al-quran, yaitu :

 1 Mewujudkan keikhlasan dan menghadirkan niat ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Saat membaca, menghafal, mendengarkan atau mengamalkan Al-Qur’an, seorang muslim wajib menghadirkan niat yang tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya : “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al- Bayyinah [98] : 5).
Dalam Kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhu, disebutkan bahwasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
    
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لإِمْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya : “Sesungguhnya  amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan memperoleh balasan sesuai niatnya”.
Para Ulama menjelaskan bahwa orang yang membaca dan belajar Al- Qur’an, tidak boleh menjadikan ibadah tersebut sebagai jalan untuk menggapai tujuan-tujuan duniawi. Baik wujudnya berupa harta, jabatan, pangkat, kedudukan terhormat di tengah-tengah kerabatnya, pujian orang-orang , menarik perhatian orang lain, dan sejenisnya.
Para orang sholeh sangat antusias untuk menjaga kesucian niat mereka ketika melakukan ketaatan, terlebih lagi saat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengotori niat mereka dengan noda apapun. Baik berupa sum’ah  (ingin amalnya didengar orang lain) ataupun riya(ingin amalnya dilihat orang lain).
Dikisahkan, tentang bagaimana Imam Ayyub As-Sikhtiyani, yang jika beliau berbicara dan membaca Al-Qur’an hingga hatinya tersentuh, sampai-sampai meneteskan air mata. Begitu khawatirnya beliau terjatuh dalam riya, beliau mengusap wajahnya. Lalu berkata,  “Betapa berat demam ini”. Supaya orang lain melihat bahwa ia menagis karena demam, bukan karena membaca Al-Quran.
Juga dikisahkan, saat Ibrahim  An-Nakha’I, ketika ia khusyu’ membaca mushaf Al-Quran. Lalu tiba-tiba ada tamu yang hendak menemuinya. Ia pun segera menyembunyikan mushafnya.
Mereka tidak mengenal perilaku yang dibuat-buat bahkan tidak terlintas benak mereka. Perbuatan baik mereka menjadi karakter mereka. Begitulah, tabiat orang-orang yang ikhlas.
Faktor utama yang membantu mereka mewujudkan makna ikhlas dalam interaksi mereka dengan Al-Qur’an adalah keyakinan bahwa ketika mereka membaca Al-Qur’an , pada hakikatnya sedang berkomunikasi dan bermunajat dengan Allah.

 2 Kedua, mengagungkan Al-Qur’an
Mengagungkan Firman Allah  merupakan ciri orang-orang sholeh,  baik pada umat ini maupun umat-umat terdahulu. Pengaruhnya tercerminkan dalam diri mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

Artinya : “ Katakanlah, berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud” (QS Al Isra [17] : 107).
Hal ini hanya terjadi pada seseorang yang Allah karuniai hati yang terbuka terhadap berbagai makna firman Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Artinya : “Demikianlah (perintah Allah). Dan siapa yang mengagungkan syiar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS Al- Hajj [22] : 32).
Ini merupakan nikmat agung yang tidak diperoleh kecuali oleh orang yang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan hidayah-Nya.
Sebagaimana firman Allah:

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Artinya : “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah kami beri petunjuk dan telah kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS Maryam [19] : 58).
Sikap mengagungkan Al-Quran menuntut seseorang untuk memiliki adab terhadap Al-Qur’an, antara lain dengan mengagungkan Al-Qur’an, bermakna mengagungkan perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya.
Selain itu,menjaga adab saat membaca Al-Qur’an. Hendaknya  seseorang membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci secara lahir dan batin. Membersihkan mulut, badan, dan pakaiannya. Hendaknya tempat membaca Al-Qur’an benar-benar bersih dan suci. Sangat dianjurkan membaca dengan menghadap kiblat dengan khusyu’ dan tenang.
Pengagungan lainnya terhadap Al-Qur’an adalah dengan mengagungkan para pengemban Al-Qur’an.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab berkata kepada Nafi’ dan Abdul Harits  saat menemuinya di Usfan. Saat itu Umar menunjuknya sebagai gubernur Mekkah. Umar bertanya kepadanya, “Siapa yang engkau angkat menjadi pemimpin untuk bertanya kepadanya, siapa yang engkau angkat menjadi pemimpin untuk penduduk Wadi?” Dia menjawab, “Aku angkat untuk mereka Ibnu Abza.” Umar bertanya, “Siapa Ibnu Abza?” Dia menjawab, “Dia adalah salah seorang dari hamba sahaya kami”. Umar berkata, “Engkau angkat untuk mereka seorang budak?” Dia menjawab, “Sesungguhnya dia seorang yang hafal Al-Qur’an dan pandai masalah fara’idh (warisan)”. Maka Umar berkata, “Sesungguhnya Nabi kalian Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “ Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab (Al-Qur’an) ini dan menghinakan kaum yang lain ini dengan Al-Qur’an pula.
Allah mengagungkan kitabnya dalam banyak ayat, di antaranya :

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Artinya : “Dan sesungguhnya kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung”. (QS Al Hijr [15] : 87).

 3 Ketiga,  Tadabbur dan Tafakkur  Makna-Makna Al-Qur’an
Siapa yang membaca dan menyimak tapi tidak mentadabburi, boleh jadi Al-Qur’an akan menjadi hujjah(alasan)atasnya. 
Hasan Al-Basri mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur’an sebagai surat dari tuhan mereka, oleh karena itu mereka mentadaburinya pada malam hari dan mengamalkannya pada siang hari”.
Dari Abdullah ibn Mas’ud, beliau berkata, “Seorang pengemban Al-Qur’an hendaknya dikenali (dengan shalatnya) pada waktu malamnya, saat orang-orang sedang tidur, dengan puasanya pada siang hari saat orang-orang  sedang makan, dengan sedihnya saat orang-orang bergembira ria, dengan tangisnya saat orang tertawa, dengan diamnya saat orang-orang berbicara dan dengan khusyu’nya  saat orang-orang angkuh.
Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Pengemban Al-Qur’an adalah pembawa panji Islam, tidak sepantasnya, ia berbuat sia-sia bersama orang yang berbuat sia-sia, tidak lalai bersama orang-orang yang lalai, tidak berkata berbuat yang tidak bermanfaat seperti orang-orang yang berkata dan berbuat yang tidak bermanfaat. Sikap ini sebagai bentuk mengagungkan  Al- Qur’an.
Oleh karena itu, bersunggu-sungguhlah wahai muslim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban penting terhadap Al- Qur’an ini. Tentunya dengan mengikhlaskan niat kepada Allah saat tilawahatau menyimaknya, mengagungkan dan menghormati Al-Qur’an dan para pengembannya. Selau berusaha mentadabburi dan memikirkan makna-maknanya, serta sungguh-sungguh dalam merealisaasiakan dan mengamalkan Al-Quran.

**Semoga Bermamfaat**
 Mau tau hal-hal disekitar dunia intertainment?? Silahkan anda kunjungi situs ini :
  1. Cara membaut email Yahoo (Klik disini)
  2. Cara membuat akun Facebook (Klik disini)
  3. Cara membuat fhoto sampul menyatu dengan fhoto profil facebook (Klik disini) 
Atau mau tau masalah-masalah disekitar Islam?? Silahkan anda kunjungi situs ini :
  1. Ilmu Tasawuf (Klik disini) 
  2. Tiga kewajiban umat muslim terhadap Al-Qur'an (Klik Disini)
  3. Cara menghafal Al-Qur'an dengan cepat dan Mudah (Klik disini)
  4. Jodoh dalam Islam/Cinta Islami (Klik disini)
Atau mau denger nih kata-kata mutiara?? Silahkan anda kunjungi situs ini :
  1. Motivasi Islam (Hadis & Anonim) (Klik Disini)
  2. Kata-kata bijak (Motivasi Mario Teguh) (Klik disini)

*******************************Tahnk's atas kunjungannya****************************
 

Telusuri

Memuat...
Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Berbagi Ilmu -Berbagi Ilmu -Metrominimalist Resep komplit- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -